Makan Siang

Wona Arcelia
4 min readJul 30, 2023

--

Ia menjadi tak nafsu. Nafsu makannya yang menggebu setelah tahu kekasihnya mengirimkan bekal untuknya ke kantor langsung menghilang seketika kala menengok isi kotak bekalnya — berisi sayuran, telur, dan udang. Dan akhirnya ia memutuskan memberikan bekal itu pada asistennya.

Bukannya ia tak suka, bukan pula ia tak menghargai pemberian kekasihnya. Ia senang teramat sangat diperhatikan oleh seseorang yang ia sayang hingga sebegitu repotnya sampai mengirimkan bekal, yang menjadi masalah adalah, ia alergi udang.

“Ini, kamu makan, ya.”

Lelaki itu tampak terkejut, melongo mendengarnya. Tentu saja, bagaimana Galen tidak terkejut ketika ia menyuruh lelaki itu untuk memakan bekal yang dikirimkan untuknya — lebih lagi Galen yang menaruh kotak makan itu di meja kerjanya.

“Tapi kan itu untuk Pak Esa.”

“Makan saja, tidak apa-apa. Saya alergi udang dan sayang kalau saya buang.”

Kotak makan itu akhirnya diterima dengan berat hati. Galen tampak tengah menimang-nimang apakah tidak masalah jika ia memakan bekal itu atau harus menolaknya namun memang sayang jika dibuang begitu saja, seolah ia tak menghargai makanan pemberian itu.

“Kalau begitu, apa Pak Esa berkenan kalau saya makan?”

“Hah?”

Bingung.

Wajah lelaki itu memerah menyadari kalimat yang ia lontarkan terdengar sangat ambigu. Ia terlalu bersemangat mengajak sang direktur untuk makan bersama hingga kalimat yang keluar dari mulutnya begitu asal-asalan.

“Maksud saya, Pak Esa makan saya — eh bukan.”

Galen mengerang frustrasi dalam hati sebab kalimat yang diucapkannya tidak ada yang benar. Baru kali ini ia kesulitan untuk mengajak seseorang makan bersama — walau sebenarnya ia tak pernah mengajak seseorang makan bersama sih. Tetapi apa memang sesulit ini untuk mengatakan sepatah kata “ayo makan bareng!” kepada seseorang? Sepertinya tidak, dirinya saja yang payah.

Lelaki itu menutupi wajahnya dengan sebelah tangan, wajahnya kian memerah bahkan ronanya sampai hingga telinga — mengundang gelak tawa merdu dari sang direktur. Lantas ia turunkan tangannya sedikit, mengintip wajah direktur ya dari sela-sela jari.

Cantik. Indah. Senyumnya manis mempesona, matanya menghilang ditelan kelopak mata — menyipit layaknya bulan sabit, membuat lelaki itu terlihat menggemaskan. Entah harus dengan kalimat apa ia definisikan keindahan di depan matanya. Seharusnya semesta memiliki kalimat yang tingkatnya lebih tinggi dari indah dan cantik agar ia bisa menggunakannya untuk mendefinisikan keindahan yang dimiliki sang direktur.

Matanya tak berpaling, lagi-lagi pandangannya terkunci pada sosok yang menimbulkan hasrat ingin memiliki dalam diri. Ia mulai menerka jika sebenarnya Esa bukanlah manusia, melainkan seorang bidadari dari surga yang sedang bermain di taman bernama dunia.

“Kamu mau ngajak saya makan siang?”

Lelaki itu mengangguk, menurunkan tangannya malu-malu, rona di wajahnya masih belum memudar.

“Iya, Pak. Sebagai ganti saya makan bekal Pak Esa, jadi saya ingin menraktir Pak Esa makan siang.”

Ajakannya disetujui begitu saja tanpa pertimbangan membuat Galen bersorak senang dalam hati. Keduanya lantas melenggang ke kantin berjalan beriringan dengan Esa yang memimpin jalan, memesan makanan untuk sang direktur dan kini duduk saling berhadapan menyantap makanan masing-masing ditemani perbincangan kecil.

“Kamu sebelumnya kerja apa?”

“Saya asisten direktur juga, Pak.”

“Terus kenapa berhenti? Resign atau...”

“Dipecat Pak.”

“Karena?”

Galen tak langsung menjawab, lelaki itu mengunyah udang dalam mulutnya, menelannya sebelum menjawab pertanyaan dari sang direktur.

“Saya mukul bos saya.”

“Kenapa?”

“Habisnya dia pegang-pegang dada saya.” Jawabnya dengan santai.

Esa tersedak setelah mendengar jawaban itu, tertawa di sela-sela batuknya. Sepertinya sang direktur gemar sekali menertawakannya. Tapi tak apa, ia suka melihat direkturnya tertawa lebar meskipun harus ia yang lelaki itu tertawakan.

Tawa itu perlahan luntur ketika ponselnya yang bergetar bersamaan dengan masuknya pesan dari sang kekasih.

“Makanannya gimana? Enak?” Esa, bertanya.

“Enak, Pak.”

Tawa getir lolos dari mulut Esa kala membaca pesan yang dia terima dari kekasihnya — “Aku tahu kakak suka banget sama udang.” Katanya. Ia hanya balas pesan itu dengan jawaban iya tanpa diikuti kata lainnya. Ia mencoba memaklumi, mungkin kekasihnya lupa jika ia alergi udang, tetapi berapa kali pun ia coba memaklumi, tetap saja rasanya kesal.

Melihat raut tak mengenakan di wajah sang direktur, Galen lekas bertanya.

“Ngomong-ngomong, pacar Pak Esa masih kuliah ya?”

“Iya, dia ngambil S2 sekarang.”

Tak ada percakapan lagi, sepertinya ia salah mengambil topik percakapan. Direkturnya terus diam hingga makan siang selesai.

“Makasih ya udah traktir saya makan. Ngobrol sama kamu ternyata asyik juga, saya harap bisa ngobrol banyak sama kamu di luar jam kerja.”

“Haha saya juga senang bisa makan siang bareng Pak Esa.”

Tentu saja senang. Bagaimana bisa ia merasa tak senang ketika bersama pujaan hati.

“Oh iya, kalau di luar jam kerja kamu bisa santai ngobrol sama saya, jangan terlalu formal, santai aja.”

Esa tak pernah tahu, izinnya itu mendatangkan bencana baginya.

Sign up to discover human stories that deepen your understanding of the world.

Free

Distraction-free reading. No ads.

Organize your knowledge with lists and highlights.

Tell your story. Find your audience.

Membership

Read member-only stories

Support writers you read most

Earn money for your writing

Listen to audio narrations

Read offline with the Medium app

--

--

Wona Arcelia
Wona Arcelia

Written by Wona Arcelia

apa benar cuaca hari ini cerah?

No responses yet

Write a response