Susu Sapi

Content Warning:
Top!Chan, Bot!Seung, Explicit Content, Mature Content, Unprotected Sex, Pet Play, Kissing, Rimming, Handjob, Fingering, Dirty Talk, Sex Scene.
Seungmin itu suka sekali susu. Berkotak-kotak susu dia jumpai berjejer rapi sesuai rasa dalam kulkas milik Seungmin. Bahkan Chan harus rela membiarkan seperempat dari kapasitas kulkasnya terisi susu sebagai persediaan jika Seungmin menginap. Sebab kekasihnya itu tak ingin meminum yang lain selain susu.
Kerap kali Chan muak melihat kekasihnya mengisap minuman itu kapan pun dan di mana pun seolah tidak ada minuman lain di dunia ini selain susu. Cukup muak.
Seungmin bisa meminum susu empat sampai lima kali sehari. Meminum obat pun hanya tiga kali sehari.
“Bisa gak sih kamu minum mineral aja gitu? Sehari aja gak minum susu bisa, gak?”
Jujur saja Chan mulai khawatir dengan pencernaan Seungmin yang terus diguyur susu setiap hari.
“Gak bisa.” Jawab kekasih manisnya dengan santai lantas melanjutkan acara minum susunya.
“Minum susu cukup sekali atau dua kali sehari aja, sayang.”
“Gak mau.”
Chan merangkul leher Seungmin dengan satu tarikan membuat susu kotak rasa vanila yang tengak dinikmati oleh pemuda manis itu jatuh ke tanah dan tumpah sebagian. Dia menggigit pipi Seungmin keras-keras hingga anak itu berteriak kesakitan dan meninggalkan jejak gigi di pipi Seungmin.
Orang-orang di sekitar mereka menoleh, ada pula yang menghentikan aktivitasnya sesaat, setelah mendengar teriakan Seungmin. Mereka menggeleng lantas melanjutkan aktivitas masing-masing yang sempat tertunda gara-gara hal tidak penting. Memaklumi dua sejoli yang berpacaran tidak tahu tempat.
Lupa jika mereka masih berada di parkiran.
“Kak Chan! Sakit tahu! Lihat tuh susu aku jadi jatuh.” Omel Seungmin seraya merengut, tak rela susu miliknya yang masih tersisa setengah itu jatuh dengan sia-sia.
“Mana ada jatuh? Ini susu masih di sini.” Ucap Chan kemudian menyentuh dada Seungmin dengan memberikan sedikit remasan di sana.
Merona sudah pipi Seungmin. Dia mengutuk Chan dalam hati sebab sudah tak tahu tempat tak tahu malu pula. Melupakan fakta jika mereka masih berada di parkiran fakultas.
“Lama-lama ini pabrik susu di seluruh dunia aku robohin.”
“Semoga helm kamu sempit sampai telinga kamu kejepit, merah, bengkak, kebas, kesemutan.”
“Astaga sayang, tega banget mulutnya.”
“Biarin. Udah ah ayo pulang aku capek!”
Seungmin memang seperti itu jika Chan mengatakan sesuatu yang buruk tentang susu. Mulutnya terkadang mengatakan hal-hal yang tega pada Chan karena susu.
Haruskah Chan juga melakukan sesuatu hal yang sedikit tega pada Seungmin agar kekasihnya itu berhenti menjadi pecandu susu?
Mungkin... sedikit permainan tidak ada salahnya.
“Pake ya sayang, nanti aku nginep di apartemen kamu.”
Kerutan samar timbul di dahi Seungmin. Sebelah tangannya memeluk kotak paket yang tidak dia ketahui apa isinya yang baru saja di terima, dan sebelahnya lagi menempelkan ponselnya ke telinga.
“Kamu beli apa sih?”
“Sesuatu. Pake aja pokoknya.”
“Gak mau ah. Kamu pasti beli yang macem-macem, kan?”
Sungguh Seungmin curiga sekali dengan Chan. Tidak biasa sekali mengirim paket ke apartemennya terlebih tidak tertera keterangan apa yang sudah Chan beli.
“Gak macem-macem, sayang. Pake aja!”
“Kamu mencurigakan banget ih gak mau aku!”
“Pake atau susu aku buang semuanya.”
Seungmin berdetak kesal. Meski dia tahu itu ancaman belaka dia tetap tidak ingin Chan menyentuh susu-susu miliknya. Susu lebih penting dari apa pun yang berada dalam kulkasnya.
“Iya iya nanti aku pake.”
“Hehehe... ya udah sayang aku tutup ya. Dosen aku udah masuk.”
PIP
Selepas Chan menutup sambungan teleponnya Seungmin mengayunkan kaki menuju kamarnya, menghampiri meja menyambar gunting di dalam laci; membukanya seraya menebak-nebak apa yang Chan beli.
Alisnya berkerut kala melihat kain berwarna putih dengan corak berwarna hitam di bagian lainnya. Tangannya meraih kain itu, mengangkatnya dengan perasaan curiga.
Seungmin terpaku selama beberapa detik. Menatap kain di tangannya dan benda yang tersisa dalam kardus bergantian. Setelah sadar dengan apa yang sedang dia genggam Seungmin sontak mengembalikan kain ke dalam kardus dan melemparkan kardus itu ke tempat tidur.
“BANGCHAN!!”
Kira-kira apa yang Seungmin terima?
“Sayang aku datang!!” Suara Chan menggema kala pemuda itu tiba di apartemen kekasihnya.
Chan melangkahkan kaki dengan riang menyelimuti raut wajahnya namun pada detik berikutnya pemuda itu merengut kala melihat Seungmin terduduk di sofa dengan ponsel di genggamannya. Matanya sibuk menatap ponsel hingga mengabaikan televisi yang menyala menonton dirinya.
“Sayang kok nggak dipake sih?” Rengek Chan seraya bergelayut manja di tangan Seungmin.
“Kata siapa? Aku pake kok.” Sahut Seungmin acuh tak acuh. Sebenarnya, dia menahan malu.
Mendengar Seungmin berkata demikian wajah Chan kembali berseri, matanya berbinar-binar. Dia tarik kerah kaus yang dipakai Seungmin lalu mengintip isinya.
“Apa sih? Jangan dilihat!”
Chan melepas tasnya kemudian mengangkat tubuh Seungmin, membawanya ke kamar. Menurunkan kekasihnya setelah sebelumnya menutup pintu kamar.
Diraihnya pinggang Seungmin hingga sesuatu yang di antara kaki mereka yang masih terbalut celana saling menempel.
Tangannya besarnya menyelusup ke dalam kaus yang di pakai Seungmin, membelai perpotongan punggung itu dari atas ke bawah dengan sensual membuat tubuh si manis membusung menahan geli.
Seungmin berpegangan pada pundak Chan guna mempertahankan jarak tubuh bagian atas mereka.
“Ng– jangan...” cicit Seungmin pelan kala Chan mengangkat kausnya. “Aku malu...”
“Kenapa malu, sayang? Aku udah sering lihat kamu telanjang.” Ucap Chan tak tahu malu.
Yah... lagi pula hanya ada Seungmin di hadapannya untuk apa malu.
“Ng... pokoknya aku nggak mau. Malu tau.”
“Sayang... ayo dong... aku udah sange berat ini. Aku dari tadi bayangin kamu terus, kamu pasti cantik pake apa yang aku beli.”
“Nggak bisa kayak biasa aja?”
“Nggak bisa, sayang. Aku pengen lihat kamu pake itu. Coba sini sentuh, dia udah sekeras ini cuma karena aku bayangin kamu pake itu loh.”
Tangannya dibawa menyentuh milik Chan. Dapat Seungmin rasakan betapa kerasnya milik Chan di balik celana jeans.
“Hahh...” Seungmin merona kala mendengar lenguhan pelan lolos dari mulut Chan. Ini hanya sentuhan biasa, dia bahkan tidak menggerakkan tangannya.
“Keras, kan, sayang? Kayak ya si lucu ini udah keras juga.” Ujar Chan kemudian menyentuh si lucu yaitu milik Seungmin yang di beri nama sesuka hati, kemudian meremasnya pelan.
Seungmin akhirnya menyerah. Pasrah kala Chan menuntunnya menuju tempat tidur, membiarkan Chan menelanjangi dirinya. Kepalang tegang tak tertahan.
Chan berjalan mundur setelah menanggalkan kaus serta celana yang tadi dikenakan Seungmin. Memandang kekasihnya yang hanya mengenakan bra serta celana dalam dengan corak persis seperti kulit sapi— isi dari paket Seungmin terima tadi.
Hal itu membuat Seungmin semakin merona, merahnya hingga telinga. Tatapan Chan seolah mengatakan ingin menyetubuhinya, meskipun pasti akan dilakukan oleh lelaki itu nanti.
Panas.
Sekelebat bayangan terlintas dalam kepalanya. Dia dan Chan berdiri— setengah menungging tanpa sehelai benang pun membalut tubuh mereka dengan salah satu tangan kekar Chan melingkar pada pinggangnya sedangkan yang satunya sibuk mengorek-ngorek lubangnya.
Betapa cabul Seungmin rasakan dirinya, membayangkan bercinta dengan orang yang berada tepat di depan matanya.
Sial, dia ingin di sentuh.
“Eung?”
Seungmin sedikit tersentak kala Chan memasangkan bando tanduk serta telinga sapi sebagai hiasannya di atasnya. Chan kemudian memasangkan kalung dengan bandul lonceng yang akan berbunyi setiap gerakan-gerakan kecil.
“Cantik banget sayang!”
Chan bersorak riang lantas menghujani wajah kekasihnya dengan kecupan-kecupan membuat Seungmin merengek ingin Chan menjauhkan wajahnya.
“Ayo.”
Kepala Seungmin bergerak miring ke kanan, kebingungan. Pikirnya, Chan ingin mengajak ke mana dirinya yang hanya memakai pakaian dalam.
“Keman— hmmphhh...”
Tidak sempat Seungmin menyelesaikan pertanyaannya, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh Chan dengan ciuman.
Tangan Chan bergerak membelai setiap lekukan tubuh Seungmin, dibawa ke belakang lalu turun ke bawah; meremas pantat sintal kekasihnya hingga lenguhan lolos disela-sela ciuman mereka.
“Hahhh...”
Chan lesakkan lidahnya pada rongga mulut Seungmin, mengundang lidah itu untuk menjulur ke luar kemudian mengisapnya.
Plak!
Tamparan mendarat di pantat si manis mengakhiri tautan mulut keduanya.
“Kamu kan suka susu, kalo minum susu kemasan terus gak sehat karena kamu minum susunya bisa empat sampai lima kali. Jadi, kenapa gak meras susu sapi aja? Biar kamu gak minum susu kotak terus.”
“Emangnya di mana ada sapi?”
“Ini sapi—” Chan menangkup pipi Seungmin. “Sapi cantik.”
Apakah Chan berniat memerasnya? Dia bahkan tidak memiliki susu untuk diperas meski sekeras apa pun tidak akan ada sus yang keluar dari tubuhnya.
Seungmin tersentak kala kedua putingnya di cubit oleh Chan. “Ahh... anghh... jangan dicubit!”
“Kamu ngelamun terus dari tadi.” Ujar Chan lalu mengangkat tubuh Seungmin membawanya ke tempat tidur.
Tak sengaja dia melirik kardus yang terletak di atas nakas, netranya menangkap sebuah benda yang tertinggal di sana. Itu adalah butt plug dengan ekor sapi.
“Oh iya ekornya belum dipasang. Nungging, sayang.”
Seungmin menggeleng cepat kala Chan menghampirinya dengan membawa benda itu. Tidak mungkin Chan ingin memasukkan benda itu ke lubangnya, kan?
Dia benci benda itu. Mengganjal dan sangat tidak nyaman.
Chan berdecak kesal sebab Seungmin tidak ingin menurut. Lantas Chan membalik tubuh Seungmin lalu mengangkat pinggul itu tinggi-tinggi. Dia tarik celana dalam yang dikenakan Seungmin ke samping memperlihatkan lubang merah berkerut berkedut ingin menelan sesuatu.
Jari telunjuknya menyentuh lubang itu membuat gerakan memutar kemudian menusuk-nusuknya. Chan membenamkan wajah pada belahan pantat kekasihnya dengan lidah terjulur. Menyapu lubang berkedut Seungmin membuat si manis meloloskan lenguhan panjang.
“Nghh... Kakhh Chan ahh...”
Katanya, Chan ingin memeras susu. Apakah yang barusan itu termasuk ke dalam prosedur memeras susu? Seungmin tidak berpikir begitu.
Tubuhnya melengkung ketika merasakan Chan menarik pantatnya ke dua sisi yang berbeda kemudian disusul benda basah tak bertulang menyelinap ke dalam lubangnya.
“Enghhh Kak hhh Chan... Kak Chan jang— AKH!”
Benda itu kini sepenuhnya tertanam di lubang Seungmin membuat si manis merengek tak nyaman meminta benda itu di keluarkan. Sedangkan Chan seolah menuli, dia sibuk memuaskan fantasinya sendiri.
Pada akhirnya Seungmin hanya diam sebab rengekannya tidak akan di dengar oleh Chan.
“Kak Chan—”
“Diem sayang, kan mau meras susu sapi. Kamu suka susu, kan?”
Chan mengelus dada hingga perut Seungmin yang masih dengan posisi menungging. Salah satu tangannya memilin puting Seungmin dari balik bra.
“Mmhh...”
“Susu sapi kan adanya di sekitar perut berarti...” Tangan Chan yang semula memilin puting Seungmin kini turun mengelus perut, meloloskan penis Seungmin dari celana dalam tanpa melepas kain itu.
Lelehan pre-cum menetes kala Chan menyentuh penis mungil itu.
“Basah banget sayang, padahal baru aku sentuh.”
Chan mulai mengurut penis Seungmin layaknya dia sedang memeras susu sapi. Pre-cum terus menetes membuat permukaan batang itu semakin licin, mempermudah Chan untuk mengurutnya.
“Ahh... u–udah... nghh.. udahhh...”
“Susunya belum keluar sayang, sabar dulu.”
Seungmin meracau, sesekali dia menggigit bibirnya tidak kuat dengan stimulasi yang diberikan oleh Chan. Penisnya terus-menerus diurut, putingnya yang masih terurup bra digoda oleh Chan. Dipilin, dicubit.
Chan berhenti bermain-main dengan dada Seungmin. Dia mulai lesakkan satu jarinya pada lubang yang masih tersumpal butt plug tanpa berniat mengeluarkan benda itu.
“Ngh... no...”
Chan menambah jarinya kemudian memijat dinding rektum di dalam sana. Dia terus tekan jarinya ke dalam hingga menyentuh sesuatu yang menyembul membuat kekasihnya tersentak. Bandul lonceng dari kalung yang melingkar pada leher Seungmin berbunyi seiring dengan gerakkan pemakainya.
“Enak sayang? Enak ya pas aku tekan ini?” Chan kembali menekan permukaan itu berkali-kali.
“Nghh iyahh hahh... e– enakhh...”
Seungmin meremat seprai di bawahnya. Matanya terpejam, mulutnya terbuka meloloskan desahan serta rengekan meminta Chan untuk melakukan lebih dan lebih.
“Kak Chan... ahhh... Kak Chan.. ngahhh hahh...”
Dinding rektum Seungmin mulai menyempit, menjepit jari Chan di dalamnya. Chan yang mengerti Seungmin telah dekat mempercepat kocokan pada penis mungil kekasihnya. Jarinya bergerak liar dalam anal Seungmin, meluluh lantakkan akal sehat si manis.
“Keluarin sayang, keluarin semuanya.”
Tubuh Seungmin menggelinjang menyemburkan cairannya membuat seprai di bawahnya basah.
“Ahhh... ngahh.. hahhh...”
Seungmin terengah-engah, tubuh bagian depannya ambruk membuat pinggulnya semakin tinggi.
“Nghh... udahh... sapinya udah kering.”
Seungmin singkirkan tangan Chan yang masih mengurut penisnya kemudian mendudukkan tubuh lemasnya setelah merasakan pelepasan tadi lantas merangkak, mencondongkan tubuhnya pada Chan.
Tangan gemetar Seungmin menyentuh selangkangan Chan. Keras dan sepertinya ini sedikit membesar berbeda dengan saat dia menyentuhnya beberapa waktu yang lalu.
“Kak Chan... mau ini...”
Senyum Chan mengembang, dia lumat bibir Seungmin sekilas kemudian membuka hoodie yang dia kenakan.
Seungmin turut membantu Chan menurunkan resleting celana jeans yang dikenakan Chan. Tangannya menyelusup ke dalam celana dalam kekasihnya, mengeluarkan penis tegang yang sedari tadi tidak tersentuh.
Tubuh Seungmin merunduk, mulutnya terbuka hendak meraup milik Chan namun Chan membekap mulut si manis mengundang geraman kesal karena gagal mengecap batang berurat itu.
“Gak usah.”
“Kenapa? Aku mau hisap penis kamu.”
“Aku udah gak tahan, sayang. Pengen ngewe. Nyepongnya kapan-kapan aja lah. Udah gak tahan aku.”
Didorongnya tubuh Seungmin hingga loncengnya menggemerincing lalu melepaskan celana dalam Seungmin yang mengganggu. Tangannya terulur menyambar botol pelumas dari dalam laci nakas.
“Kondomnya di mana sayang?”
“Nggak usah pake kondom! Nggak suka.”
“Main aman sayangku.”
Seungmin menggeleng ribut. “Nggak mau!”
Chan mengalah, dia lantas melebarkan tungkai Seungmin, memosisikan dirinya di antara kaki si manis. Menuangkan pelumas kemudian meratakan cairan itu pada penisnya. Dia gesekkan penisnya dengan milik Seungmin lalu turun perlahan hingga berada di depan cincin anal si manis.
Seungmin terpaku, matanya membulat, panik. Butt plug itu masih tertanam dalam tubuhnya. “Kak Chan kamu gak niat masukin aku sama– itu– itu masih di sana.”
“Gak usah protes kamu sapi nakal.”
Pukulan pada paha membuat Seungmin diam, menggigit bibirnya dan menutup mata kuat-kuat. Dia mengerang kala kepala kejantanan milik Chan mulai menerobos bergesekkan dengan butt plug yang masih bersarang dalam analnya.
“Mmmhhh...”
Decakan kesal mengudara bersamaan dengan Chan yang mengeluarkan miliknya. “Ganggu.”
Benda itu lantas di tarik ke luar, dia lemparkan ke lantai lalu kembali memasukkan penisnya ke dalam Seungmin sekali hentakan membuat dada kekasihnya membusung. Memukul telak permukaan menonjol di dalam sana.
“AHHH!”
Chan merundukkan badannya meraup bilah bibir Seungmin. Lumat, hisap, saling membelit lidah. Ciumannya turun pada leher polos yang belum sempat dia tandai tadi, menorehkan beberapa jejak kemerahan pada leher jenjang itu kemudian kembali melumat bibir favoritnya.
Bibir yang sering melontarkan kalimat-kalimat tega jika Chan menjelek-jelekkan sesuatu tentang susu.
“Nghh! Mhhh! Ahhh.” Desahan Seungmin di sela ciuman mereka terputus-putus sebab Chan menarik penisnya hingga ujung kemudian menghentakkannya keras berulangkali menyebabkan rasa panas pada cincin analnya.
“Ngahh... shh sakit... sakit... pelan-pelan”
“Sakit? Sakit sayang? Kalo gini sakit?”
Chan menghentakkan miliknya lebih keras dari sebelumnya.
“Ahh... kamu enak banget sayang. Masih sakit, hm?”
Seungmin mengangguk ribut. Merentangkan tangannya hendak memeluk Chan namun yang lebih tua malah menegakkan tubuhnya, menjahili Seungmin, membuat Seungmin merengek karena tak dapat memeluk kekasihnya.
“Ngahh Kak Chan... mauhh mau peluk... aku mau– mau peluk.”
Chan terkikik. Seungmin menggemaskan sekali.
Chan meraih tangan Seungmin kemudian lingkarkan tangan itu ke lehernya. Tangannya bergerak ke bawah punggung Seungmin, mengangkatnya hingga tubuh kecil itu duduk di pangkuannya.
“Ahhh.” Seungmin benamkan wajahnya pada pundak Chan. Lenguhan panjang terus lolos dari bilah bibirnya. Penis Chan tertanam sempurna, menekan titik manisnya di dalam sana.
“Suka ya posisi kayak gini? Kontol aku makin dalem kan sayang? Enak, kan? Suka kan aku kontolin di posisi ini?”
Seungmin tidak dapat merespon, dia kehilangan banyak kosa kata terlebih kala Chan menggerakkan pinggulnya sehingga dia hanya bisa mendesah dan meneriaki nama Chan.
“Kamu ngewe pake posisi apa aja suka ya? Emang dasarnya lubang kamu seneng makan kontol, mau diewe gimana pun selalu suka shhh... udah kayak lonte.”
Mendengar Chan memanggilnya seperti itu membuat libido Seungmin semakin naik. Dia frustrasi merasakan titik putihnya semakin dekat. Dia tidak tahan.
“Kenapa lubangnya makin ketat sayang? Seneng kamu aku panggil lonte? Iya?”
“Nghh... Kak Chanhh... Kakhhh...”
Chan menggeram rendah kala dinding rektum Seungmin semakin menjepit miliknya di dalam. Lantas dia jatuhkan Seungmin ke tempat tidur dengan bokong si manis yang masih berada di pangkuannya. Dia meraih tiap sisi pinggul Seungmin, guna mempercepat gerakannya.
Seungmin terlihat begitu cantik di matanya. Wajahnya merona, bibirnya terlihat sedikit membengkak, tatapan sayu dihiasi lelehan air mata di sekitarnya. Benar-benar cantik.
“Anghhh mmhhh mahhh mau– mau cum...”
“Tunggu bentar sayang, ahhh barengan.”
Tubuh Seungmin terpantul-pantul seiring dengan hentakkan Chan yang tidak beraturan disertai gemerincing lonceng yang setia mengiringi tiap lenguhannya.
“Ngahhh... Kak Chanhh...” Seungmin tidak dapat menahannya lebih lama lagi, cairannya menyembur berlomba-lomba keluar dari kemaluannya hingga membasahi perut.
“Aku keluar di dalem ya sayang hahhh gak apa-apa kan?”
Tanpa menunggu jawaban dari Seungmin, Chan hentakkan penisnya dalam-dalam. Mengeluarkan spermanya di dalam lubang Seungmin.
Keduanya terengah-engah. Chan membubuhi kecupan pada wajah Seungmin lalu membalik tubuh kekasihnya tanpa melepaskan penyatuan di bawah sana.
“Lagi ya?”
“NGGAK MAU!”
Langit telah menggelap. Jam kini menunjukkan pukul sepuluh malam sedangkan sepasang kekasih masih betah bergelung di bawah selimut dengan kondisi telanjang bulat.
Pengecualian untuk Seungmin. Dia tidak telanjang bulat, bra dengan corak kulit sapi itu masih menempel pada tubuhnya.
“Shh... udah kenapa sih jangan cubit-cubit pentil aku terus!” Ujar Seungmin geram sebab Chan terus mencubit putingnya.
“Aku lapar tau. Sana pesen makan!”
Dengan kekehan keluar dari mulutnya, Chan mengambil handuk guna menutupi selangkangannya kemudian berjalan ke luar kamar menuju tempat di mana dia meletakkan tasnya untuk mengambil ponsel miliknya. Mereka sudah melakukannya sejak jam empat sore tadi. Lupa jika kekasihnya itu belum dia beri makan.
Sementara itu, Seungmin memungut kemudian memakai hoodie milik Chan yang menutupi sebagian pahanya. Dia berjalan menuju dapur, menghampiri kulkas. Tangannya terulur mengambil susu dari dalam kulkas. Namun saat hendak meminumnya, pergerakannya terhenti. Dia mengembalikan susu itu ke dalam kulkas, menutup pintunya dengan kesal.
Bangchan sialan, terhadap susu kini sedikit berubah.